Banjir dan Tata Kelola Drainase Kota-Ancaman Kesehatan dan Sanitasi di Musim Hujan

Setiap musim hujan, banjir perkotaan kembali menjadi ancaman bukan hanya terhadap kerusakan materi, tetapi juga terhadap kesehatan dan sanitasi masyarakat. Masalah sering muncul ketika drainase kota tidak mampu menampung volume air hujan, ditambah tata kelola sampah dan drainase yang buruk, sehingga menciptakan kondisi berisiko tinggi terhadap penyakit.

Kota-kota besar di Indonesia, terutama yang memiliki pemukiman padat dan saluran air kurang memadai, acap menjadi langganan genangan air. Warga melaporkan bahwa saat hujan deras, air tergenang di jalanan dan permukiman hingga beberapa jam bahkan hari, air kotor bercampur air limbah domestik dan sampah. Kondisi tersebut meningkatkan risiko penyakit menular seperti diare, infeksi kulit, dan gangguan saluran pernapasan.

Ahli kesehatan lingkungan menekankan bahwa air banjir membawa banyak potensi kontaminan bakteri, virus, limbah rumah tangga, serta bahan kimia dari sampah dan polusi yang sangat berbahaya jika masuk ke saluran air minum atau saat warga menggunakan air banjir untuk mandi, mencuci, atau keperluan rumah tangga. Di wilayah dengan drainase buruk, sanitasi juga sering terganggu: saluran pembuangan limbah bisa meluap, WC dan septic tank bisa mencemari air permukaan, memperburuk risiko kesehatan.

Tata kelola drainase dan sampah menjadi aspek vital dalam pencegahan. Beberapa daerah yang berhasil mengelola drainase dengan baik melalui regularisasi saluran, pembersihan selokan, dan pengelolaan sampah teratur cenderung memiliki dampak banjir dan sanitasi yang lebih sedikit. Namun di banyak kota, saluran air tersumbat (oleh sampah plastik, daun, sedimen), drainase tertata secara sporadis, dan sistem pembuangan limbah rumah tangga tidak berjalan optimal.

Sejumlah organisasi masyarakat dan komunitas lokal telah memulai inisiatif swadaya: gotong royong bersihkan selokan, kampanye tidak membuang sampah ke sungai/drainase, serta edukasi soal sanitasi pasca-banjir. Langkah kecil ini dinilai penting tetapi tanpa dukungan kebijakan dan anggaran dari pemerintah kota, dampaknya terbatas.

Pemerintah setempat di beberapa kota pernah mengeluarkan jadwal rutin pembersihan drainase dan saluran air terutama sebelum musim hujan tiba. Namun keterbatasan anggaran dan koordinasi antar instansi sering membuat program itu tidak terlaksana optimal. Akibatnya, ketika hujan besar terjadi, drainase gagal berfungsi maksimal, dan banjir pun melanda permukiman padat maupun area padat penduduk.

Warga mengeluhkan bahwa setelah banjir, akses ke air bersih dan sanitasi terganggu: sumur domestik bisa terkontaminasi, air PAM tercemar, dan kondisi higiene buruk. Anak-anak dan lansia dianggap paling rentan terkena penyakit seperti diare, ISPA, dan kulit. Beberapa puskesmas lokal melaporkan lonjakan kasus penyakit terkait air pasca-banjir di periode musim hujan tahun-tahun sebelumnya.

Sementara itu, pakar perencanaan kota menyarankan agar setiap kota memperkuat sistem drainase dengan memperhitungkan perubahan iklim curah hujan yang semakin ekstrem serta memperhatikan penataan izin bangunan agar tetap ada ruang resapan air dan saluran pembuangan yang memadai. Mereka juga menekankan pentingnya pengelolaan sampah yang ketat agar saluran tidak mudah tersumbat.

Upaya mitigasi dan adaptasi sangat penting: dari renovasi drainase, kebijakan sanitasi, regulasi pengelolaan air limbah, hingga edukasi sosial, agar risiko kesehatan dan sanitasi akibat banjir bisa ditekan seminimal mungkin.

zheltymedia
zheltymedia
Articles: 136

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *