IMS Naik di Kalangan Muda: Diam yang Berbahaya

Halo sobat Zelly! Banyak anak muda baru datang ke rumah sakit ketika rasa perih, nyeri, atau luka sudah tak tertahankan. Bukan karena mereka tidak menyadari tubuhnya memberi sinyal bahaya, melainkan karena ada ketakutan lain yang lebih besar: dihakimi. Diam menjadi pilihan, meski risikonya berlipat ganda.

 

Ketika Stigma Mengalahkan Kesehatan

 

Sejumlah rumah sakit rujukan di kota-kota besar mencatat peningkatan kasus infeksi menular seksual (IMS) pada kelompok usia 20–29 tahun. Ironisnya, sebagian besar pasien datang dalam kondisi yang sudah parah. “Banyak yang menunda berobat karena takut dicap ‘nakal’ atau tidak bermoral,” ujar dr. Bima Arya, dokter spesialis kulit dan kelamin.

Stigma sosial terhadap IMS masih begitu kuat. Penyakit ini kerap dikaitkan dengan perilaku yang dianggap menyimpang, alih-alih dipahami sebagai persoalan kesehatan. Akibatnya, anak muda memilih memendam keluhan, mencoba pengobatan sendiri, atau sekadar berharap gejala akan hilang dengan sendirinya. Padahal, keterlambatan penanganan dapat memicu komplikasi serius, mulai dari gangguan kesuburan hingga meningkatnya risiko penularan ke pasangan lain.

 

Edukasi yang Tidak Menyentuh Realitas

 

Menurut dr. Bima, masalah tidak berhenti pada stigma semata. Pendekatan edukasi kesehatan reproduksi di Indonesia masih cenderung moralistik. “Pesan yang disampaikan sering menghakimi, bukan melindungi. Fokusnya larangan, bukan informasi,” katanya.

Kondisi ini membuat anak muda enggan bertanya atau mencari layanan kesehatan secara terbuka. Banyak dari mereka akhirnya mengandalkan informasi dari media sosial atau forum daring yang belum tentu benar secara medis. Klinik-klinik kesehatan mencatat, sebagian besar pasien IMS mengaku tidak memahami gejala awal, cara penularan, maupun langkah pencegahan yang tepat.

 

Ancaman Kesehatan Publik

 

Jika pola ini terus berlanjut, IMS berpotensi berkembang menjadi masalah kesehatan publik yang lebih serius. Tanpa edukasi yang berbasis sains dan layanan kesehatan yang ramah anak muda, upaya pencegahan akan selalu tertinggal.

Perubahan pendekatan menjadi keharusan. Edukasi kesehatan reproduksi perlu disampaikan tanpa stigma, dengan bahasa yang jujur, inklusif, dan relevan dengan realitas anak muda. Mencari pertolongan medis seharusnya dipandang sebagai tindakan bertanggung jawab, bukan aib. Sebab dalam isu IMS, diam bukan solusi ia justru bahaya yang paling nyata.

zheltymedia
zheltymedia
Articles: 136

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *