Saat pertama kali menstruasi, Rina (15) tidak menangis di pelukan ibunya atau bertanya dengan suara gemetar seperti yang sering ia lihat di film. Ia justru mengurung diri di kamar, menatap layar ponsel, membuka TikTok dan YouTube. Di sana, ia berharap algoritma bisa menjawab rasa bingung dan cemas tentang tubuhnya hal-hal yang tak pernah dibahas di meja makan keluarganya.
Rina bukan satu-satunya. Di banyak keluarga, pembicaraan tentang tubuh, pubertas, dan kesehatan reproduksi masih dianggap tabu. Topik ini sering diselimuti rasa malu, ketakutan, dan anggapan bahwa membicarakannya sama dengan mendorong perilaku menyimpang. Akibatnya, rumah yang seharusnya menjadi ruang aman justru menjadi ruang sunyi bagi remaja.
Sunyi di Dalam Rumah
Survei remaja perkotaan yang dilakukan sejumlah lembaga pendidikan menunjukkan lebih dari 60 persen remaja mengaku tidak pernah berdiskusi soal menstruasi, mimpi basah, atau perubahan tubuh dengan orang tua mereka. Orang tua merasa canggung dan tidak memiliki bekal pengetahuan, sementara remaja takut dicap “tidak tahu malu” atau dianggap terlalu dewasa.
“Banyak orang tua mengira diam adalah bentuk perlindungan, padahal justru sebaliknya,” ujar Dr. Andika Prasetyo, psikolog remaja. Menurutnya, ketiadaan komunikasi membuat remaja mencari jawaban sendiri tanpa pendampingan.
Media Sosial Jadi Guru Pengganti
Kekosongan informasi di rumah mendorong remaja menjadikan media sosial sebagai guru pengganti. Video singkat, thread anonim, hingga akun edukasi bercampur dengan konten sensasional menjadi sumber utama pengetahuan. Rina mengaku belajar tentang menstruasi, nyeri haid, hingga mitos seputar keperawanan dari unggahan yang lewat di linimasa.
“Masalahnya, informasi di media sosial tidak selalu benar dan sering kali tidak kontekstual,” kata Andika. Tanpa literasi kesehatan yang memadai, remaja sulit membedakan fakta medis dengan opini atau mitos.
Risiko Salah Informasi
Mitos tentang menstruasi, kontrasepsi, dan seksualitas beredar luas dan mudah dipercaya. Kesalahan informasi ini berkontribusi pada perilaku berisiko, mulai dari penggunaan pembalut yang tidak higienis hingga keputusan seksual tanpa perlindungan. Data Kementerian Kesehatan menunjukkan peningkatan kasus infeksi menular seksual (IMS) pada kelompok usia 15–24 tahun dalam beberapa tahun terakhir.
Bagi remaja, dampaknya bukan hanya fisik, tetapi juga psikologis rasa takut, malu, dan bersalah terhadap tubuh sendiri.
Membangun Komunikasi yang Sehat
Pakar menekankan bahwa edukasi kesehatan reproduksi bukan soal mendorong seks bebas, melainkan soal perlindungan dan tanggung jawab. “Remaja yang mendapat informasi benar justru lebih mampu menjaga diri dan membuat keputusan yang aman,” tegas Andika.
Membuka ruang dialog di keluarga dinilai sebagai langkah paling dasar dan krusial. Dengan komunikasi yang jujur dan empatik, rumah dapat kembali menjadi tempat pertama bagi remaja untuk memahami tubuhnya tanpa harus sepenuhnya bergantung pada algoritma.



