Halo sobat Zelly! terdapat perkataan “Keputusan ini bukan karena saya tidak suka anak,” ujar Maya, perempuan berusia 32 tahun. Kalimat itu hampir selalu ia ucapkan setiap kali kerabat atau rekan kerjanya menanyakan soal rencana memiliki momongan. Bagi Maya, keputusan untuk hidup tanpa anak bukanlah bentuk penolakan terhadap keluarga, melainkan pilihan sadar yang diambil setelah pertimbangan panjang. “Saya ingin hidup dengan ritme yang saya pahami dan tanggung jawab yang sanggup saya jalani,” katanya.
Cerita Maya menggambarkan pergulatan banyak individu yang memilih childfree di tengah masyarakat yang masih menempatkan anak sebagai tujuan utama pernikahan. Keputusan ini kerap dipandang tidak lazim, bahkan dianggap menyimpang dari norma sosial yang telah lama mengakar.
Pilihan Hidup di Tengah Tekanan Sosial
Childfree adalah keputusan individu atau pasangan untuk tidak memiliki anak, bukan karena ketidakmampuan biologis, melainkan pertimbangan personal, emosional, dan sosial. Fenomena ini semakin terlihat di kawasan perkotaan, seiring meningkatnya kesadaran akan kesehatan mental, stabilitas ekonomi, serta keinginan menjaga kualitas hidup.
Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) menegaskan bahwa keputusan reproduksi merupakan hak setiap individu dan pasangan. Namun, dalam praktik sosial, pilihan childfree masih sering disalahpahami dan disederhanakan sebagai sikap egois atau anti-keluarga.
Psikolog Ratna Lestari, M.Psi., menjelaskan bahwa keputusan childfree biasanya lahir dari proses refleksi yang matang. “Childfree bukan penyimpangan. Selama diputuskan secara sadar, komunikatif dengan pasangan, dan bertanggung jawab, ini adalah pilihan hidup yang valid dan perlu dihormati,” ujarnya.
Perempuan dan Beban Sosial
Dalam masyarakat patriarkal, perempuan sering menjadi pihak yang paling disorot dalam isu childfree. Perempuan kerap dihadapkan pada pertanyaan berulang tentang “kapan punya anak” atau tudingan tidak menjalankan kodrat. Tekanan ini tidak jarang memicu stres, rasa bersalah, dan kelelahan emosional.
Stigma yang melekat membuat sebagian perempuan memilih diam atau menghindari diskusi tentang pilihan hidupnya. Padahal, setiap individu memiliki kapasitas, kondisi kesehatan, dan prioritas hidup yang berbeda-beda. Tidak semua orang berada dalam situasi yang memungkinkan atau menginginkan peran sebagai orang tua.
Kurangnya pemahaman publik juga membuat childfree kerap disamakan dengan penolakan terhadap nilai keluarga. Padahal, banyak individu childfree tetap memiliki relasi keluarga yang hangat dan berkontribusi aktif dalam lingkungan sosialnya.
Menghormati pilihan reproduksi berarti menghormati kemanusiaan. Childfree bukan ancaman bagi nilai keluarga, melainkan cerminan kebebasan menentukan jalan hidup. Masyarakat yang sehat adalah masyarakat yang memberi ruang bagi perbedaan pilihan, tanpa menghakimi atau memaksakan standar yang sama kepada semua orang.



