Deforestasi dan Gambut Rusak- Mengapa Banjir dan Longsor Semakin Sering?

Indonesia kembali diguncang bencana hidrometeorologi banjir bandang dan tanah longsor yang melanda sejumlah wilayah, terutama di Pulau Sumatra, pada akhir 2025. Banyak pihak menyebut bahwa bencana ini bukan semata karena curah hujan tinggi, tetapi sebagai akumulasi kerusakan ekosistem yang telah lama terabaikan: deforestasi masif dan rusaknya lahan gambut.

Menurut pakar hidrologi dan konservasi DAS (daerah aliran sungai) dari Universitas Gadjah Mada (UGM), kerusakan pada hulu sungai di mana hutan dan gambut seharusnya berfungsi sebagai “spons alami” telah melemahkan daya serap air hujan. Hutan yang dulu menyerap dan mengatur aliran air, kini banyak telah hilang akibat alih fungsi lahan, penebangan, pertambangan, dan perkebunan.

Di wilayah seperti provinsi Sumatra Barat (Sumbar), misalnya, dalam rentang 2001–2024 terjadi kehilangan hutan primer sebanyak sekitar 320.000 hektare, dan total kehilangan tutupan pohon (hutan primer + sekunder) mencapai sekitar 740.000 hektare. Sisa hutan yang ada banyak berada di lereng curam wilayah Bukit Barisan membuat risiko longsor dan banjir bandang meningkat tajam ketika hujan lebat turun.  Lahan gambut juga jadi korban kerusakan. Lahan gambut secara alami berfungsi menyimpan air dan mengatur siklus hidrologi. Namun, drainase untuk membuka perkebunan sawit atau hutan tanaman industri menyebabkan gambut kering dan kehilangan kemampuan menyerap air. Akhirnya, ketika hujan deras, air tidak tertahan lagi air meluncur cepat ke permukiman di hilir, memicu banjir dan longsor.

Peristiwa bencana di Sumatra pada November–Desember 2025 menjadi contoh nyata bagaimana kerusakan lingkungan memperparah dampak alam. Hujan ekstrem akibat siklon tropis memang menjadi pemicu, tetapi skala kerusakan rumah, infrastruktur, ratusan korban jiwa menunjukkan bahwa penyebab utama adalah degradasi hutan dan lahan.

Pakar dari UGM menegaskan bahwa fungsi ekologis hutan seperti intercept hujan, infiltrasi air ke tanah, menjaga stabilitas tanah hilang ketika tutupan hutan hilang. Ketika ini terjadi, intensitas hujan yang tinggi mudah menyebabkan longsor, erosi, dan limpasan air besar dalam waktu singkat.

Dampak dan Implikasi

  • Kerentanan bencana meningkat: Daerah aliran sungai yang dulu aman kini menjadi rawan longsor dan banjir.
  • Kerugian manusia & lingkungan besar: Korban jiwa, hancurnya rumah, infrastruktur rusak, dan gangguan ekosistem.
  • Penurunan fungsi lingkungan jangka panjang: Hilangnya kemampuan hutan/gambut menyimpan air, meningkatnya erosi, menurunnya kualitas tanah.

Apa yang bisa dilakukan?

Para ahli dan organisasi lingkungan menyerukan beberapa langkah penting:

  • Reforestasi / Rehabilitasi DAS & lahan gambut, terutama di hulu sungai tanam pohon, pulihkan tutupan vegetasi. 
  • Pengendalian alih fungsi lahan hentikan konversi hutan primer dan lahan gambut menjadi perkebunan atau tambang. 
  • Perbaikan tata ruang & kebijakan lingkungan, dengan penerapan regulasi ketat terhadap izin penggunaan lahan, serta penegakan hukum terhadap illegal logging dan alih fungsi ilegal. 
  • Pendidikan & kesadaran publik, agar masyarakat mengetahui pentingnya fungsi hutan dan gambut sebagai benteng alam terhadap bencana.

 

zheltymedia
zheltymedia
Articles: 136

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *