Krisis hutan di Indonesia kembali menjadi sorotan setelah meningkatnya bencana hidrometeorologi seperti banjir dan longsor di berbagai wilayah. Sejumlah lembaga lingkungan menilai kerusakan hutan kini berada pada titik yang mengkhawatirkan, dan memperingatkan bahwa hilangnya tutupan pohon berdampak langsung pada meningkatnya risiko bencana dan terganggunya keseimbangan ekosistem.
Menurut laporan WWF-Indonesia yang dirilis bekerja sama dengan Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK), tekanan terhadap hutan meningkat akibat konversi lahan, penebangan ilegal, hingga perluasan perkebunan dan aktivitas pertambangan. Beberapa daerah yang sebelumnya memiliki tutupan hutan lebat kini mengalami degradasi cepat dalam lima tahun terakhir.
Hutan memiliki peran penting dalam menjaga stabilitas lingkungan. Akar pohon membantu menahan struktur tanah, mencegah erosi, serta mengatur penyerapan air. Ketika hutan hilang, tanah kehilangan kemampuan mengikat air hujan, sehingga air mengalir deras ke permukaan dan memicu banjir. Kondisi ini paling sering terjadi di wilayah perbukitan dan daerah aliran sungai yang tutupan hutannya berkurang.
Selain menahan tanah dan air, hutan juga berfungsi sebagai penyerap karbon—mengurangi konsentrasi gas rumah kaca di atmosfer. Hilangnya penyerapan karbon ini berdampak pada peningkatan suhu lokal dan memperburuk pemanasan global. Para ahli menjelaskan bahwa kerusakan hutan mempercepat perubahan iklim yang berakibat pada cuaca ekstrem dan siklus hujan yang tidak menentu.
Dampaknya tidak hanya pada lingkungan, tetapi juga pada kehidupan sosial masyarakat. Banjir dan longsor yang timbul akibat degradasi hutan merusak rumah warga, infrastruktur, lahan pertanian, dan akses terhadap air bersih. Ketika hutan rusak, sumber mata air yang biasanya stabil juga ikut terganggu. Di beberapa desa, cadangan air menurun drastis pada musim kemarau, sementara banjir meningkat pada musim hujan.
Kajian WWF-Indonesia menunjukkan bahwa kawasan yang terjaga tutupan hutannya memiliki risiko bencana lebih rendah dibanding daerah yang mengalami deforestasi cepat. Reforestasi dianggap sebagai langkah penting dalam memulihkan fungsi hutan sebagai penyangga alam.
Upaya pelestarian hutan kini banyak dilakukan melalui kolaborasi pemerintah, lembaga lingkungan, dan masyarakat. WWF-Indonesia dan KLHK juga memperkuat kerja sama dalam konservasi hutan, penanganan krisis iklim, serta perlindungan keanekaragaman hayati. Program penanaman kembali di area rawan longsor dan hulu sungai mulai digencarkan, terutama di wilayah Sumatera, Kalimantan, dan Sulawesi.
Pakar lingkungan menekankan bahwa masyarakat dapat berperan langsung dengan menjaga ruang hijau sekitar, tidak membuka lahan dengan pembakaran, serta berpartisipasi dalam penanaman pohon. Di wilayah perkotaan, keberadaan pohon juga membantu menurunkan suhu, menyaring polutan, dan menjaga kualitas udara—menjadi alasan mengapa penghijauan kota sangat penting.
Dengan meningkatnya ancaman bencana alam akibat kerusakan hutan, para ahli menilai bahwa konservasi tidak lagi bisa ditunda. Hutan bukan hanya sumber oksigen, tetapi fondasi utama yang menjaga tanah, air, dan kehidupan manusia tetap berjalan stabil. Melindungi hutan berarti melindungi masa depan lingkungan dan keselamatan masyarakat.



