Pengaruh Beban Ganda Perempuan Bekerja Terhadap Kesehatan

Pagi hari, Maya (32) sudah bersiap ke kantor sebelum matahari benar-benar naik. Malam hari, setelah jam kerja usai, ia kembali mengenakan “seragam” lain, memasak, mencuci, dan mengurus anak. Dua dunia yang ia jalani setiap hari itu jarang terlihat sebagai beban, namun tubuh Maya mulai memberi tanda. Siklus menstruasinya menjadi tidak teratur, nyeri haid semakin sering, dan kelelahan tak pernah benar-benar hilang.

 

Kisah Maya mencerminkan realitas banyak perempuan bekerja yang memikul peran ganda sebagai pencari nafkah sekaligus pengelola rumah tangga. Peran ini sering dianggap sebagai kewajaran, bukan sebagai kerja tambahan yang berdampak pada kesehatan fisik dan mental.

 

Dua Dunia yang Harus Dijalani

 

Berbagai studi menunjukkan perempuan menghabiskan hampir dua kali lipat waktu untuk kerja domestik dibanding laki-laki, meski sama-sama bekerja penuh waktu. Setelah jam kantor berakhir, pekerjaan rumah tangga justru dimulai. Beban ini sering kali tidak diakui sebagai kerja, sehingga dampaknya pada kesehatan kerap diabaikan.

 

“Perempuan bekerja jarang memiliki waktu pemulihan yang cukup,” kata Dr. Ratna Suryani, dokter kandungan. Menurutnya, kelelahan berkepanjangan dapat memengaruhi keseimbangan hormon reproduksi.

 

Stres dan Gangguan Reproduksi

 

Stres kronis yang dialami perempuan bekerja berdampak langsung pada kesehatan reproduksi. Gangguan menstruasi, nyeri haid berlebihan, hingga masalah kesuburan kerap muncul sebagai sinyal tubuh. “Tubuh memberi peringatan lewat siklus menstruasi yang tidak teratur atau rasa nyeri yang meningkat,” jelas Ratna.

 

Selain faktor fisik, tekanan psikologis juga berperan. Tuntutan pekerjaan, ekspektasi keluarga, dan minimnya dukungan membuat perempuan berada dalam kondisi stres berkepanjangan yang sulit diurai.

 

Minimnya Dukungan Tempat Kerja

 

Di banyak tempat kerja, kebijakan yang ramah terhadap kesehatan reproduksi perempuan masih belum merata. Cuti haid, fleksibilitas kerja, dan ruang laktasi sering kali dianggap fasilitas tambahan, bukan kebutuhan dasar. Akibatnya, banyak perempuan memilih diam meski mengalami gangguan kesehatan, demi menjaga keamanan pekerjaan dan penghasilan.

 

Maya mengaku pernah tetap bekerja meski mengalami nyeri hebat saat menstruasi. “Tak enak izin, takut dianggap tidak profesional,” katanya.

 

Menuju Lingkungan Kerja yang Adil

 

Para ahli menilai kebijakan ketenagakerjaan yang sensitif gender menjadi kunci perlindungan kesehatan reproduksi perempuan. Lingkungan kerja yang adil tidak hanya menguntungkan perempuan, tetapi juga meningkatkan produktivitas dan kesejahteraan bersama.

 

Tanpa perubahan kebijakan dan pembagian peran yang lebih setara, beban ganda akan terus menjadi risiko kesehatan yang sunyi dipikul perempuan, namun jarang disadari sebagai masalah struktural.

zheltymedia
zheltymedia
Articles: 136

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *