Kisah Mahasiswi Melawan Luka Masa Lalu

Halo Sobat Zelly, ditengah-tengah hiruk-pikuk dunia tantangan dan dinamika yang dihadapi oleh masyarakat begitu besar dan kompleks. Apalagi saat kita berada difase muda di mana karakter dan pikiran kita belum sepenuhnya berkembang dan sedang mencari jati diri. Beban mental yang sering dirasakan banyak orang biasanya berfokus pada keluarga, pendidikan atau pekerjaan, hubungan sosial dan persahabatan. 

Karena itulah yang membuat kondisi mentalnya terganggu, parahnya lagi sampai ke ranah depresi atau trauma. Sobat Zelly jangan takut dan merasa pesimis ketika dihadapi dengan kondisi seperti itu. 

Kali ini kita memiliki narasumber yang berhasil survive dan pulih dari rasa sakit yang selalu ia rasakan. Narasumber kita berinisial S, juga merupakan mahasiswi UMM. Ia adalah sosok hebat yang dapat pulih dari rasa trauma masa lalu yang dihadapi, Sobat Zelly bisa nih menjadikan dia sosok inspiratif.

Kisah inspiratif ini bermula ketika dia masih semasa kecil tepatnya masih menjejakkan kaki di Sekolah Dasar. Yang dimana dia lebih banyak diasuh  oleh nenek dan kerabatnya, “aku waktu kecil dititipkan sama orang tuaku ke nenek dan tante, karena kondisi kesehatan orang tuanya. Akhirnya aku benar-benar gak dekat sama orang tua ku bahkan sejak kecil kurang merasakan kasih sayang keluarga atau orang tua” Ujar dia. Apalagi kondisi orang tuanya begitu memprihatinkan “Ayah aku cacat sejak dini yang dimana tidak bisa berjalan normal, dan kondisi Ibuku yang sakit-sakitan.” 

Pola asuh yang diberikan kepada orang tua nya kepada dia hanya sebatas memberikan uang untuk dia membeli apa yang dia suka dan memberikan uang kepada nenek atau kerabatnya untuk membelikan kebutuhan pokoknya dia. 

Selain itu juga, didikan orang tuanya terkhusus ayahnya begitu keras, “ perilaku orang tuaku waktu aku melakukan kesalahan itu mereka itu sering kali ngelakuin kekerasan ke aku, kayak mukul Aku pakai benda-benda yang tajam terus, melempar benda yang berat gitu itu dilakukan ketika waktu kecil, terus aku dijambak-jambak. Pokoknya kasar lah, Aku tuh enggak paham mereka itu kenapa sampai kayak gitu ke aku kayak gitu” Ujar dia.

Semua itu berlangsung selama dia menjejaki di masa Sekolah Dasar. Pada masa Sekolah Menengah Pertama (SMP) sampai masa Sekolah Menengah Akhir (SMA), dia juga masih merasa hal yang sama yakni kekurangan kasih sayang terlebih lagi dia memiliki pandangan buruk terhadap orang tuanya terkhusus ayahnya. 

Dia pernah mengulik tentang masa lalu dari orang tua nya, kenapa tega memperlakukan anaknya seperti ini. “bapakku kan Cacat itu karena bapakku tuh disiram air panas sama orang tuanya terus sedangkan Ibuku itu tidak punya Peran ayah di dalam hidupnya jadi dia tuh mau memberikan kasih sayang buat aku pun agak susah.”

Puncak dari kekerasan yang pernah dilakukan ayahnya, yang sampai membekas dan menjadi salah satu momen yang membuat dia trauma. “Aku tuh pernah pulang malam pada waktu hari raya, ketika aku udah pulang malah aku dicambuk sama ayahku pake pecutan kuda.  itu dilakuin kamu dan itu sampai mau subuh dilakukan dari habis Isya Itu nggak berhenti-berhentikan mungkin berhentinya cuma dia ngoceh lah bapakku terus dilakukan lagi kayak gitu sampai Aku tuh nggak tenanglah di situ itu ibaratnya mimpi buruk buat aku.”

“Iya aku tahu itu sebuah kesalahan, waktu itu kan masih kecil aku nggak bakalan mikir kalau akibatnya sampai seperti ini tapi ternyata dari kesalahan-kecil itu menemukan trauma yang besar,” ungkap dia penuh dengan rasa kesal dan sedih.  “Bayangkan aja pas waktu SD aja aku udah kayak punya pikiran Akhiri hidup, aku tahu kalau itu benda tajam tapi enggak tahu istilah bunuh diri cuma aku kayak nancep-nacipin aja kebagian yang sekiranya itu fatal, respon orang tuaku biasa aja karena dianggapnya bercanda”. “Enggak ada ekspresi apa-apa. ketika aku melakukan hal tersebut, aku ngerasa kayak mati juga percuma akhirnya tertimbun terus dengan rasa kesal”.

Kasih sayang yang paling dia rasakan berasal dari neneknya, “aku dulu paling sering diasuh sama nenekku, bahkan nenekku pernah ngebela aku dari apa yang ayah lakukan pada ku. Namun respon ayah hanya sebatas anak itu tidak boleh dimanja.” ujar dia dengan kesal. Apalagi orang tuanya berusaha untuk menjauhkan dia dari neneknya. 

“Aku juga dari SMP sampai SMA udah di pondokan, dan itu jauh dari tempat tinggalku.” Ketika dia sudah beranjak remaja, kebencian itu menjadi-jadi dan mulai menjadi rasa trauma berat. “Semasa itu aku jarang pulang dan jarang ketemu sama orang tua ku, meskipun itu hari raya,” yang selalu dia lakukan adalah berusaha untuk tidak bertemu dengan orang tuanya. Karena ketika bertemu dan berinteraksi dengan orang tua nya, perasaan dan ingatan kelam itu muncul kembali. 

Bahkan sampai dia berada di fase kuliah. “Aku juga jarang pulang pas kuliah, aku selalu mencari banyak alasan untuk tidak pulang. Meskipun ayah ibuku sudah memintaku untuk pulang.” 

Dampak Yang Ku Rasakan

Ketika dia memikul rasa trauma yang begitu berat, banyak sekali perubahan-perubahan yang dia rasakan baik secara kognitif, afeksi, dan aksi. “Aku pernah marah sama temenku gara-gara dia mengkritik aku. Nahhh aku itu gak terima karena aku takut untuk dimarahi.” Dan sampai detik ini, dia selalu dan masih menganggap bahwa semua laki-laki itu jahat. Selain itu dia juga merasa kesepian meskipun lingkungan pertemanan banyak yang menyayangi dia, ini diakibatkan ketika masih kecil sudah kehilangan rasa sayang dari orang tua. 

Salah satu bentuk pelampiasan yang sering dia lakukan sering mengarah ke makanan. “Kalo aku lagi stress, atau rasa trauma itu muncul aku sering lari ke makanan. Jadi aku sering sakit asam lambung ya gara-gara pola makan ku tidak terkontrol.” 

Klimaksnya, dia pernah menyesal untuk lahir dan dilahirkan, “gara-gara tindakan ayahku, aku pernah menyesal untuk lahir, buat apa aku lahir. Aku lahir gak ada gunanya juga kok.” Akhirnya mengarah, dia mulai meragukan keberadaan tuhan dan jauh darinya. 

Dia juga pernah menganggap bahwa tuhan itu tidak ada, tuhan itu tidak adil. “Aku pernah merenungi bahwa, tuhan ini enggak ada loh, buktinya hidupku selalu sengsara.” dari pandangan itulah membuat dia enggan melakukan kegiatan-kegiatan keagamaan seperti shalat, dan lain sebagainya.

Dampak yang dia rasakan akhirnya membuat dirinya terketuk bahwa. Memendam perasaan ini jauh lebih buruk dan sakit. “Aku gak mau terus-terusan seperti ini, jadinya aku cobalah ke konselor atau psikolog.” 

Upaya Untuk Pulih Kembali

Sebelum dia pergi ke psikolog upaya pertama kali yang dia lakukan untuk sembuh dan pulih, adalah meminta bantuan ke teman dekat sekaligus orang kepercayaannya. “Aku paling sering cerita ke sahabatku, meminta pandangan dan saran ke sahabatku.”  “Karena pertama kali yang memberiku semangat untuk terus hidup adalah sahabatku ini.” 

Selain itu dia juga menyarankan untuk sobat Zelly pergi untuk ke psikolog atau konselor, “ Psikologi itu menurut aku bisa membuka pikiran kita yang awalnya cuma tertuju pada masalah kita tapi sebenarnya bisa membuka lebih luas lagi, kalau gitu kan udah ahli kan jadi kita nggak bisa Mendem pikiran kita tuh sendiri.”

Untuk Sobat Zelly, rasa sakit atas masa lalu itu adalah hal yang manusiawi. Tidak ada manusia yang hidupnya sempurna. Dinamika dalam kehidupan adalah suatu yang niscaya. “Berusaha untuk sembuh dan memendam semua itu bukanlah tindakan yang baik, malah dampaknya lebih berbahaya. Jadi Sobat Zelly harus berani untuk bercerita kepada siapapun. Jangan pernah takut untuk ke Psikolog atau konselor, mereka adalah dokter yang mau sembuhin luka dihati dan pikiran kita.” Ungkap dia yang berhasil pulih dari rasa luka. 

 

zheltymedia
zheltymedia
Articles: 136

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *