Refleksi Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan

Halo Sobat Zelly, dalam memperingati 16 hari kampanye Hari Anti Kekerasan Terhadap Perempuan (HAKTP). Sobat Zelly peringatan HAKTP merupakan suatu kampanye internasional, kampanye tersebut untuk menyuarakan perjuangan perempuan dalam membela haknya sebagai manusia. Serta untuk menyuarakan ketidakadilan dan kekerasan yang dialami perempuan. 

HAKTP sendiri jatuh pada 25 November dan puncak kampanye adalah diperingati hari Hak Asasi Manusia (HAM) yang jatuh pada tanggal 10 Desember. Dilansir dari Catatan Tahunan (CATAHU) KomnasPerempuan telah menjadi rujukan penting dalam memotret tren kekerasan berbasis gender terhadap Perempuan di Indonesia selama lebih dari dua dekade. Tahun 2024 mencatat peningkatan signifikan, yaitu 330.097kasus-naik 14,17% dari tahun sebelumnya, dengan dominasi kasus di ranah personal. 

Meskipun UU TPKS sudah ada, implementasi hukumnya belum efektif, sehingga masih banyak Perempuan yang menjadi korban. Lalu upaya apa yang efektif dan efisien sehingga dapat memberantas segala kekerasan dan ketidakadilan berbasis gender hingga ke akar pohon. 

Perbedaan Antara Kekerasan Dan Pelecehan

Sobat Zelly tau tidak, bahwa kekerasan dan pelecehan itu merupakan dua kasus yang berbeda. Menurut Prof. Wildan selaku Psikolog dan Psikiater dari Indonesia Sehat Jiwa. “Pelecehan itu biasanya mungkin impact-nya berbeda dengan kekerasan. Kalau kekerasan itu bisa kadang sampai trauma yang berat.Karena kekerasan itu kan involving biasanya menyakiti orang itu secara psikis maupun fisik.”

“Sedangkan kalau pelecehan itu biasanya mungkin hal-hal orang-orang kadang angkat pilih di budaya kita contohnya kayak catcalling terus body shaming.” Ungkap dia, dalam membedakan antara pelecehan dan kekerasan. Dia juga mempertegas bahwa, kasus yang dikatakan pelecehan ketika antara pelaku dan korban terjadi sebuah consent atau persetujuan. Jika tidak ada consent diantara keduanya maka bisa dikategorikan sebuah tindakan pelecehan.

Wildan sendiri juga mengatakan, “SMA sampai mahasiswa itu demografi yang paling sering menceritakan tentang pengalaman kekerasan seksual maupun pelecehan seksual. Kekerasan sendiri, kekerasan seksual yang saya lihat trennya paling banyak saya lihat itu justru anak-anak yang SD, SMP.”

Apa yang dikatakan Wildan sungguh ironi sekali nasib kaum perempuan. Sobat Zelly tidak boleh meremehkan tindakan-tindakan seperti ini karena akan berdampak besar terhadap kondisi mentalnya. “Kebanyakan dari mereka terutama self blaming, mereka menyalahkan diri sendiri ketika mereka dilecehkan.” Ungkap Wildan ketika menangani kasus pelecehan atau kekerasan seksual. 

Di Indonesia masih kental dengan budaya patriarki jadi sangatlah wajar jika korban paling banyak dari kalangan perempuan, selain itu ketika perempuan sudah menjadi korban tak banyak yang mendukung dia untuk pulih dari rasa trauma yang ia rasakan. Wildan “karena kalau kamu lihat di media mainstream pun, siapa yang kena selalu cewek, terutama yang disalahkan adalah ceweknya. Kenapa kalau pakai baju A, B, C, D, E, bukan salahnya si korban.” 

Lalu apa yang kita bisa lakukan untuk mengurangi dan menyadarkan bahwa tidak selamanya salah perempuan. “Mungkin harus ada paradigma yang kita ubah untuk melihat bahwa victim adalah victim. Mereka korban atau korban. Dan juga memberikan hukuman ataupun konsekuensi yang pas untuk pelaku dan bukan memberikan hukuman sosial untuk orang-orang yang menjadi korban.” Ucap Wildan.

Wildan sendiri pernah menangani kasus pelecehan dan kekerasan seksual. Dan banyak sekali menyaksikan apa yang mereka rasakan, “yang aku sering jumpai itu kebanyakan trauma sosial atau gender related trauma.” ada kasus “misalnya diperasa sama cowok yang tua sekitar usia 40 tahun dia kembali ke sekolah melihat guru yang mirip usianya mirip sama si pelaku, itu trauma yang biasanya trigger lagi.”

Ketika trauma itu kambuh kembali, mereka tidak bisa berkonsentrasi dalam beraktifitas, bahkan sampai enggan untuk ke sekolah. “Makanya banyak anak-anaknya yang habis menjadi korban itu bolos sekolah, nggak mau pergi ke sekolah karena rasa malu, rasa takut, dan juga rasa menyalahkan.”

Cara Memulihkan Kondisi Korban Pelecehan dan Kekerasan Seksual

Namun, sangat disayangkan masyarakat kita masih belum banyak yang mengetahui tentang efek daripada trauma, trauma tentang pelecehan dan kekerasan seksual. Lingkungan sekitar bahkan keluarga korban terkadang masih belum sadar dan masih terjerat budaya patriarki. 

Rasa trauma korban akan pulih ketika korban berani untuk pergi ke psikolog atau psikiater, dan lingkungan sekitar dan keluarga mendukung kesembuhan dari korban. “Psikoterapi Of course itu penting Penting untuk kita bantu dia sampai dia tidak trauma sampai dia bisa pulih Tapi lebih penting juga ketika orang-orang di sekitarnya termasuk orang tua, sekolah, turut membantunya.”

“Di edukasi bahwa hal-hal seperti ini itu adalah salah pelaku dan bukan salah dari korban berarti yang memang untuk mengusahakan si korban ini pulih.” Ungkap Wildan. Wildan juga menjelaskan dalam sistem penyembuhan, baik itu secara medis atau psikologis ada beberapa aspek, yakni bio, psiko, sosio, spiritual. Yang artinya secara biologis seperti membutuhkan obat-obatan dan harus meminumnya. 

Keadaan sosial juga harus diperbaiki, kalau tidak diperbaiki siapa support sistem dia. Lalu psiko dibantu dengan psikolog atau psikiater dalam menjalani terapi. Dalam aspek spiritual, maka korban harus mengkoneksikan kembali antara korban terhadap tuhan untuk menerima keadaan yang dialami. 

Menurut Wildan ada beberapa cara untuk membantu pulih korban pelecehan dan kekerasan seksual. “Pertama yang aku selalu sarankan untuk teman-teman yang istilahnya melihat orang lain butuh support, maka harus menjadi pendengar yang baik. Jangan pernah membuat korban merasa sendiri.” “Kita rangkul kalau dia siap untuk cerita dengarkan ceritanya, setelah itu  misalnya kamu dapat gambarannya dan kamu merasa ternyata kasus nya butuh dilaporkan, maka segera laporkan.”

“Speak up di tempat-tempat yang safe. Entah itu BEM atau teman-teman yang bisa support kamu atau organisasi luar. Terus habis itu gaungkan cerita ini. Terus habis itu kalau memang butuh untuk melawan secara hukum, maka cari lembaga hukum yang dapat dipercaya.”

“Kadang stigma ini, terutama buat cewek untuk misalnya dilecehkan itu stigma masih di masyarakat kita, malah ceweknya yang disalahkan. Jadi, kadang mereka cari safe space di mana mereka bisa cerita apaan. Ketika sudah dilakukan kalian harus mendukung mendukung si korban itu maksudnya kalian bantu resource apapun yang bisa di konek ke korban sehingga korban ini bisa dibantu.”

Pelecehan seksual dan Kekerasan Seksual itu tidak mengenal gender. Menurut Wildan, “Maka yang aku encourage untuk teman-teman, regardless your gender, kalau kalian pernah mengalami hal seperti itu, speak up as much as possible. Kalau nggak berani speak up, tulis di suatu domain atau jurnal segala macam, berikan cerita Anda keluar, karena itu penting untuk pendidikan orang lain sebagai psikoedukasi maupun sebagai tindak preventif.”

Nahh yang sangat perlu diperhatikan oleh Sobat Zelly, kita harus mengoreksi perilaku kita. Apakah tindakan atau perilaku kita menyakiti mental seseorang atau tidak. “ Speak up empower yourself dan jangan lupa untuk minta bantuan profesional jadi jangan mencoba untuk melakukannya sendiri.”

zheltymedia
zheltymedia
Articles: 136

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *