Hai Sobat Zelly! Berbicara mengenai kesehatan mental erat kaitannya dengan ketenangan diri atau bagaimana kita untuk mengelola stress. Sobat Zelly sendiri tau tidak, kalau ada suatu ilmu cabang filsafat yang berfokus kepada bagaimana individu merespon fenomena sosial agar tidak terlalu berdampak besar terhadap diri kita. Cabang ilmu filsafat tersebut adalah stoikisme, secara garis besar karakteristik stoikisme membantu kita dalam berfokus pada apa yang bisa kita kendalikan. Metode ini sangat ampuh dapat memberikan efek positif untuk Kesehatan mental.
Stoikisme atau stoisisme berasal dari kata stoikos, Bahasa Yunani yang berarti stoa (serambi atau beranda). Filosofi ini pertama kali muncul pada wilayah Athena, Yunani pada awal abad ke-3 Sebelum Masehi, dikemukakan oleh Zeno. Filosofii ini mengajarkan bahwa setiap manusia haruslah tidak bergantung pada Hasrat, tidak terpengaruh oleh kesedihan maupun sukacita, dan tidak mengeluh untuk semua kondisi yang sebenarnya tidak bisa kamu hindari. Titik tolak dari seluruh filsafat stoa adalah rasa kagum terhadap tatanan dan keteraturan yang ada di dunia. Menurut Zeno keteraturan dunia ini bukanlah suatu kebetulan semata, namun keteraturan segala sesuatu itu disebut juga sebagai nasib atau takdir. Segala sesuatu yang ada didalam realitas tidaklah terlepas dari hukum ini (Smith & Wattimena, 2007).
Seni Menjalani Hidup
Pada perspektif stoisme tentang sebuah seni hidup guna menggapai kebahagiaan, prinsip dasar dari pemikiran Stoa adalah penyesuaian diri dengan hukum alam, jadi perbuatan baik menurut Stoa adalah bentuk perbuatan yang sesuai dengan hukum alam. Pandangan Stoisme yang terutama adalah pandangan selalu berjalan menggunakan rasio. Jadi seorang Stoisme bukanlah manusia emosional, melainkan seorang pemikir dingin. Gejolak perasaan dan hawa nafsu ditolaknya karena manusia yang dikuasai oleh perasaan dan hawa nafsu adalah manusia irasional, rendah dan sesat pikir.
Sobat Zelly sendiri tau tidak bahwa hakikat manusia adalah mahluk yang memiliki perasaan dan emosi. Perasaan sedih dan senang. Emosi dan berbagai macam sensasi seringkali mewarnai kehidupan manusia. Emosi adalah aspek yang menentukan praktek dan sikap kita. Ada aspek yang ingin dicapai oleh Stoikisme adalah:
- Bebaskan diri dari emosi negative (sedih, marah, iri, curiga, siksaan, dll) dan wujudkan hidup damai (tenang). Kedamaian ini hanya dapat dicapai dengan berfokus pada apa yang dapat kita kendalikan.
- Hidup mempertajam Kebajikan. Menurut stoikisme ada empat Kebajikan utama:
- Kebijaksanaan: kemampuan untuk membuat Keputusan terbaik dalam situasi apa pun.
- Keadilan: Perlakukan orang lain dengan adil dan jujur.
- Keberanian: Keberanian untuk melakukan hal yang benar, keberanian untuk berpegang pada prinsip yang benar.
- Kesederhanaan: disiplin, kesederhanaan, martabat, dan pengendalian diri (untuk gairah dan emosi).
Sobat Zelly, emosi bisa muncul karena adanya rasa kebingungan tentang masalah yang berkaitan dengan perubahan. Goleman menjelaskan bahwa pada prinsipnya emosi dasar manusia meliputi rasa takut, marah, sedih, dan gembira. Sutanto juga menambahkan bahwa rasa malu, bersalah, dan cemas merupakan emosi dasar manusia. Emosi ini penting karena sangat berpengaruh tidak hanya pada aspek perilaku tetapi juga perilaku masa depan, terutama emosi negative (Al Baqi, 2015).
Para filsuf Stoa lebih menekankan pada pengendalian emosi negative, dan mengasah virtue (Manampiring,2019). Manusia adalah makhluk sosial yang tidak dapat hidup sendiri dan setiap individu tidak dapat dipisahkan dari hubungan sosial dengan orang lain. Setiap sobat Zelly berinteraksi dengan orang lain akan membangkitkan emosi pada setiap individu, individu dapat mengindentifikasi sikap dan pikirannya sehingga dapat bertindak sesuai dengan dirinya sendiri.
Salah satu tujuan filsafat stoisme yaitu hidup bebas dari emosi negative. Untuk itu sobat Zelly harus bisa mengendalikan sesuatu yang berada didalam kendali kita atau di luar kenali kita. Kalau sobat Zelly merasakan emosi negative salah satu caranya adalah diam sejenak dan berpikir jernih, kemarahan kita lebih merusak daripada penyebab kemarahan itu sendiri dan terkadang ada orang-orang yang layak dihindari dalam hidup.
Ada beberapa Langkah-langkah yang bisa diambil sobat Zelly saat merasakan emosi negative, yang dapat disingkat menjadi S-T-A-R (Stop, think & Assess, Respond):
- Stop (berhenti). Ketika dalam keadaan emosi negative, sebaiknya berhenti dulu dan tidak berlarut dalam emosi tersebut. Seperti sedang berbicara “time-out” di dalam hati. Keadaan seperti ini dapat digunakan dalam semua emosi negative saat ada rasa, misalnya curiga, stress, frustasi, sedih, marah, khawatir dan lain-lain.
- Think & Assess (dipikirkan dan dinilai). Ketika sudah dapat mendiamkan emosi dan mulai berpikir rasional itu artinya seseorang telah dijauhkan dari menuruti emosi.
- Respond saat sedang memanfaatkan akal dan berusaha untuk berpikir jernih yang masuk akal dalam mencermati situasi dan kondisi, ketika emosi mulai sedikit demi sedikit berkurang kemudian mulailah berpikir reaksi apa yang ingin sekali ditunjukan. Reaksi dapat dilakukan melalui sebuah lisan atau perbuatan. Penentuan reaksi tersebut akan datang ketika berpikir mengenai kondisinya yang sudah mulai membaik, sehingga penerapan reaksi lisan dan perbuatan akan memiliki penerapan akal yang baik dengan prinsip yang adil, bijak, berani, dan mampu menahan diri.
Menurut Henry, framework S-T-A-R ini dapat digunakan dalam situasi apapun. Tidak ada yang begitu berlebihan sehingga individu bahkan tidak dapat mengendalikan interpretasinya sendiri. Bukan stress yang membunuh kita. Dua orang dapat merasakan jumlah tekanan yang sama, tetapi tergantung pada sudut pandang masing-masing orang. Respon nya bisa sangat berbeda. Maka dari itu kami merekomendasikan kepada sobat Zelly untuk mempelajari dan menerapkan konsep dari filsafat stoisme, Dimana stosisme mengatakan bahwa seseorang yang bernilai merupakan orang yang mempunyai kebebasan atau autarkia, yang dapat dimaknai dengan kemandirian pada diri sendiri dalam semua hal. Sobat Zelly sendiri bisa mempelajari dengan membaca buku Filosofi Teras karya Henry Manampiring.



