Halo Sobat Zelly!! Perubahan zaman tidak hanya membawa kemajuan teknologi dan peluang karier yang semakin terbuka, tetapi juga menggeser cara pandang dan cara hidup mahasiswa terhadap kehidupan kampus. Salah satu aspek yang terkena batu dari perubahan zaman adalah organisasi kemahasiswaan.
Organisasi kemahasiswaan yang dahulu dipandang sebagai ruang utama pembentukan karakter, kepemimpinan, kesadaran sosial, ruang belajar baik itu hard skill dan soft skill, kini mulai kehilangan daya tariknya.
Penyebabnya adalah menjamurnya fenomena apatisme, individualisme, hedonisme, dan pragmatisme. fenomena tersebut di benarkan oleh Nabila selaku Ketua Umum Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM) Komisariat Psikologi UMM “Mahasiswa saat ini sudah kritis dan pola pikirnya independent, namun yang menjadi penyakit adalah sifat praktis dan individualis yang membuat enggan untuk berproses di organisasi”.
Fenomena tersebut menjadi indikator kuat bahwa organisasi sedang berada pada persimpangan krusial : beradaptasi atau ditinggalkan.
Kalau menurut Nabila organisasi kemahasiswaan masih relevan, bahkan masih sangat menjawab kondisi dan kebutuhan mahasiswa saat ini. Ada beberapa aspek yang perlu di perhatikan ketika organisasi kemahasiswaan ini masih ingin eksis di mata mahasiswa :
- Organisasi saat ini perlu membaca kondisi dan kebutuhan dari para anggotanya.
- Dalam penjalanannya tidak boleh memaksa dan menggunakan pendekatan humanis, karena mental mahasiswa saat ini bisa disebut mental Strawberry.
- Harus banyak memberikan pengalaman dan pemahaman baru.
- Harus meninggalkan budaya-budaya konservatif atau budaya organisasi yang sudah tidak relevan dengan kondisi saat ini.
Menurut Nabila ketika point tersebut dilaksanakan, anggota dari organisasi tersebut akan berjuang sepenuh hati.
Alasan kenapa Nabila keempat point tersebut tidak terlepas dari kondisi mental mahasiswa saat ini yang sudah berbanding terbalik dengan generasi-generasi sebelumnya.
Selain itu, Manfaat mahasiswa berorganisasi memiliki 2 aspek yakni, jangka panjang dan jangka pendek. Hal ini juga di pertegas oleh Nabila, menurut dia manfaat jangka panjang nya adalah memperbaiki mental kita
“Awal nya mudah nyerah dan takut, tapi ketika masuk organisasi dan berproses didalamnya dia sudah pantang menyerah dan pantang takut.” ujar Nabila, memperbanyak ilmu pengetahuan dan pengalaman yang sangat berguna bagi mahasiswa untuk bermasyarakat dan bernegara kelak.
Manfaat jangka pendek dari organisasi adalah mendapatkan relasi, portofolio, sertifikat. Manfaat tersebut hanya bisa di dapatkan di organiasasi, dan mau berproses sepenuh hati.
Pergeseran Mental Mahasiswa
Mahasiswa generasi saat ini hidup dalam tekanan kompetisi global. Tuntutan untuk cepat lulus, memiliki portofolio kerja, serta kesiapan memasuki dunia industri.
Kondisi seperti itu membuat pergeseran orientasi mahasiswa semakin pragmatis dan individualis. Tak sedikit mahasiswa menilai aktivitas kampus berdasarkan manfaat langsung yang bisa diperoleh.
Akhirnya organisasi sering dipersepsikan sebagai ruang yang menyita waktu, penuh konflik internal, dan tidak selalu memberikan keuntungan praktis. Akibatnya sikap apatis tumbuh bukan karena mahasiswa anti organisasi, melainkan karena organisasi gagal menjawab kebutuhan zaman.
Individualisme dan Melemahnya Solidaritas
Sobat Zelly, ketika budaya individualisme menguat dapat turut memengaruhi dinamika organisasi. Mahasiswa menjadi semakin fokus pada pengembangan diri secara personal, baik melalui kursus daring, magang mandiri, maupun kerja paruh waktu.
Aktivitas kolektif yang menuntut komitmen jangka panjang sering kali dianggap kuno dan tidak fleksibel. Organisasi yang masih bertahan dengan pola kerja kaku dan hierarkis sulit bersaing dengan pilihan pengembangan diri yang lebih adaptif.
Ketika organisasi tidak mampu memberikan ruang fleksibilitas dan pengakuan atas kebutuhan personal mahasiswa, maka solidaritas kolektif perlahan akan melemah.
“Organisasi harus bisa membuat para anggotanya nyaman dan aman dalam berkegiatan baik secara formal dan kultural.” Ujar Nabila.
Organisasi vs Magang dan Dunia Kerja
Program magang, kerja paruh waktu, dan peluang profesional lain menjadi aktor pesaing utama organisasi kemahasiswaan.
Dunia industri menawarkan pengalaman nyata, jejaring luas, serta manfaat yang secara nyata berdampak pada karier. Sementara organisasi sering kali belum mampu mengemas pengalaman berorganisasi sebagai kompetensi yang terukur dan diakui.
Padahal, organisasi sejati memiliki keunggulan strategis dalam membentuk soft skill seperti kepemimpinan, komunikasi, manajemen konflik, dan kepekaan sosial.
Namun, keunggulan ini sering tidak nampak dipermukaan dengan baik sehingga kalah bersaing secara narasi dengan dunia kerja.
“Organisasi sangat mampu merubah cara berpikir dan bertindak kita, yang nantinya akan sangat bermanfaat dalam dunia pekerjaan yang serba keras dan cepat.” Ujar Nabila.
Jadi Sobat Zelly, organisasi mahasiswa itu masih sangat relevan dengan kondisi saat ini, karena relevansi bukan ditentukan oleh nostalgia masa lalu, melainkan oleh kemampuan menjawab tantangan masa kini dan masa depan.



