
Di zaman digital saat ini, media sosial sudah menjadi bagian penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi Z. Berbagai informasi bisa didapatkan hanya dalam beberapa detik melalui platform seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), atau aplikasi berita. Namun, di balik kemudahan itu muncul fenomena yang kian sering terjadi, yaitu doomscrolling. Istilah ini menggambarkan kebiasaan menggulir layar terus-menerus untuk membaca berita atau konten yang banyak berisi informasi negatif, seperti bencana, konflik, kekerasan, atau isu-isu yang mengganggu ketenangan pikiran. Tak disadari, kebiasaan ini bisa berdampak cukup besar pada kesehatan mental.
Fenomena doomscrolling semakin berkembang sejak masa pandemi COVID-19, karena masyarakat semakin lama menghabiskan waktunya di depan layar untuk memantau perkembangan situasi terkini. Hingga saat ini, kebiasaan tersebut tetap berlangsung karena arus informasi di media sosial yang sangat cepat. Algoritma di platform digital biasanya menampilkan konten yang menarik perhatian pengguna, seperti berita yang terkesan mengejutkan atau memancing perasaan emosional. Akibatnya, orang bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca informasi negatif tanpa menyadari bagaimana hal itu memengaruhi kesehatan mental mereka.
Generasi Z paling mudah mengalami doomscrolling karena mereka tumbuh bersama teknologi digital. Kegiatan belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga mencari kesenangan sebagian besar dilakukan dengan menggunakan internet. Karena menggunakan media sosial dengan frekuensi yang tinggi, mereka lebih mudah terkena berbagai jenis informasi, baik yang baik maupun yang buruk. Ketika seseorang tidak bisa mengelola informasi yang terus masuk, mereka merasa cemas, takut, bahkan lelah secara emosional, dan hal itu terjadi terus-menerus.
Salah satu dampak besar dari doomscrolling adalah semakin tingginya perasaan cemas. Paparan terus-menerus tentang berita negatif bisa membuat seseorang merasa bahwa dunia sedang tidak aman. Perasaan takut akan masa depan, kesehatan, ekonomi, atau kondisi sosial semakin menguat meski belum pasti dirasakan secara langsung. Jika kecemasan tidak dikelola secara baik dalam jangka panjang, hal itu bisa mengurangi kualitas hidup dan merusak kesejahteraan mental seseorang.
Selain menyebabkan kecemasan, doomscrolling juga bisa membuat seseorang merasa stres dan capek secara mental. Otak manusia perlu istirahat agar bisa leih baik dari berbagai informasi yang masuk. Ketika seseorang terus mendapat berita buruk terus-menerus tanpa henti, otak akan berusaha lebih keras untuk memahami dan memproses informasi tersebut. Akibatnya, seseorang cenderung merasa lebih cepat lelah, sulit fokus, mudah tersinggung, dan kehilangan semangat dalam melakukan kegiatan sehari-hari.
Di masa kini yang berada dalam zaman digital, media sosial sudah menjadi bagian yang sangat penting dalam kehidupan sehari-hari, terutama bagi generasi Z. Berbagai macam informasi bisa diperoleh dalam beberapa detik lewat platform seperti Instagram, TikTok, X (Twitter), atau aplikasi berita. Namun, di balik kemudahan tersebut, muncul sebuah fenomena yang semakin sering terjadi, yaitu doomscrolling. Istilah ini mengacu pada kebiasaan menggulir layar terus-menerus untuk membaca berita atau konten yang berisi banyak informasi negatif, seperti bencana, konflik, kekerasan, atau isu-isu yang bisa mengganggu ketenangan pikiran. Tak disadari, kebiasaan ini bisa memengaruhi kesehatan mental secara signifikan.
Fenomena doomscrolling semakin populer sejak masa pandemi COVID-19, karena masyarakat semakin sering membuang waktu di depan layar untuk memantau berita terkini. Kebiasaan itu masih berlangsung sampai saat ini karena informasi di media sosial menyebar dengan sangat cepat. Algoritma di platform digital umumnya menampilkan konten yang bisa membuat pengguna tertarik, seperti berita yang terasa mengejutkan atau membuat perasaan emosional pada pengguna. Akibatnya, seseorang bisa menghabiskan waktu berjam-jam membaca informasi negatif dan tidak menyadari bagaimana hal itu bisa memengaruhi kesehatan mental mereka.
Generasi Z lebih rentan terhadap doomscrolling karena mereka tumbuh bersama teknologi digital. Kegiatan seperti belajar, bekerja, berkomunikasi, hingga mencari kesenangan biasanya dilakukan dengan bantuan internet. Karena sering menggunakan media sosial, mereka lebih mudah terpapar berbagai jenis informasi, baik yang positif maupun negatif. Ketika seseorang kesulitan mengatur informasi yang terus masuk ke dalam pikirannya, mereka bisa merasa cemas, takut, atau bahkan lelah secara emosional, dan hal ini terjadi terus-menerus.
Salah satu dampak besar dari doomscrolling adalah meningkatnya perasaan cemas. Paparan terus-menerus soal berita negatif bisa membuat seseorang merasa bahwa dunia sedang tidak aman. Perasaan takut terhadap masa depan, kesehatan, ekonomi, atau kondisi sosial semakin kuat, meskipun belum tentu dirasakan secara langsung. Jika kecemasan tidak dikelola dengan baik dalam waktu lama, maka bisa membuat kualitas hidup menurun dan merugikan kesehatan mental seseorang.
Selain bikin cemas, doomscrolling juga bisa membuat seseorang merasa stres dan lelah secara mental. Otak manusia harus beristirahat agar bisa memproses informasi yang masuk dengan lebih baik. Ketika seseorang sering mendengar berita buruk secara berkelanjutan, otaknya akan berusaha lebih giat untuk memahami dan mengolah informasi itu. Akibatnya, seseorang biasanya merasa lebih cepat lelah, kesulitan fokus, mudah tersinggung, dan kehilangan semangat dalam menjalani aktivitas sehari-hari.