Hasil penelitian menunjukkan bahwa otak remaja aktif berkembang hingga pertengahan usia 20-an. Penggunaan ganja di masa remaja dapat mengakibatkan efek jangka pendek dan jangka panjang yang dapat mengganggu anak menghadapi kesehariannya. Dilansir dari Mainstee News, hasil penelitian menunjukkan bahwa otak remaja aktif berkembang hingga pertengahan usia 20-an. Ketika menggunakan ganja di masa remaja dapat mengakibatkan efek jangka pendek seperti, gangguan panca indra, perubahan suasana hati, refleks yang melambat, kehilangan keseimbangan dan koordinasi tubuh, kesulitan berpikir dan memecahkan masalah, serta halusinasi dan delusi.
Dampaknya pada Asma
Asma adalah penyakit dengan banyak penyebab, artinya tidak semua penderita asma bereaksi dengan cara yang sama terhadap berbagai pemicu. Bagi sebagian penderita asma, ganja merupakan bronkodilator langsung – ganja merelaksasi saluran napas yang dapat membantu pernapasan. Kekurangannya adalah ganja yang dihirup bersifat iritan dan dapat menyebabkan peningkatan batuk, dahak, dan mengi.
Jadi, risikonya jauh lebih besar daripada manfaatnya dan spesialis asma tidak merekomendasikan ganja yang dihirup atau diuapkan untuk pengobatan asma. Ganja dapat digunakan untuk mengurangi kecemasan, tetapi juga dapat menjadi kekurangan jika mengurangi perhatian yang tepat untuk mengelola asma – terutama jika perhatian tersebut menyebabkan pasien berhenti minum obat yang diresepkan untuk mengontrol asma mereka. Pesan utamanya adalah ganja tidak boleh dihirup atau diuapkan oleh penderita asma. Sediaan lain (misalnya, minyak, topikal, makanan) mungkin tidak memiliki efek menguntungkan khusus pada asma atau penyakit alergi lainnya.
Mencegah kejang karena epilepsi
Penggunaan ganja medis di beberapa negara, seperti Amerika Serikat, umumnya untuk mengontrol rasa sakit. Akan tetapi, ganja tidak cukup ampuh untuk rasa sakit yang parah (misalnya, nyeri pasca operasi atau patah tulang. Menurut Peter Grinspoon, seorang dokter, pendidik, dan spesialis ganja di Rumah Sakit Umum Massachusetts, ganja setidaknya lebih aman daripada opium. Grinspoon juga menyebutkan penggunaan ganja yang terkontrol tidak menyebabkan overdosis, tidak membuat ketagihan, dan dapat menggantikan obat anti inflamasi nonsteroid. Sebuah studi dalam jurnal Curius (2018) memperlihatkan bahwa ganja berpotensi untuk mengatasi epilepsi dan membantu meredakan gejala pasien epilepsi dengan resistansi obat. Kandungan cannabinoid dalam daun ganja diyakini membantu meringankan kejang pada pasien epilepsi. Senyawa ini memiliki peran dalam mengurangi pelepasan neurotransmiter (sinyal rangsangan saraf) di sistem saraf pusat (SSP), sehingga mencegah kejang.


