Pengaruh Digitalisasi Terhadap Psikologi Remaja di Masa Pubertas

Halo sobat Zhelty. Pada disrupsi teknologi saat ini sangat berdampak pada seluruh aspek manusia baik secara tindakan  dan emosional. Dalam fase perkembangan manusia, fase yang paling rentan terkena gejala mental adalah fase remaja. Hal ini dikarenakan kombinasi perubahan biologis (otak dan hormon), tekanan sosial/akademik, krisis identitas, dan pengaruh media sosial. Masa transisi ini memicu stres emosional yang tinggi, perilaku impulsif, serta pencarian jati diri yang sering kali tanpa dukungan lingkungan yang memadai.

Kaitannya dengan Digitalisasi

Secara emosional, dalam fase remaja terjadi perkembangan dalam otak khususnya bagian Prefrontal Cortex. Bagian ini sangat krusial karena berfungsi sebagai perencanaan, pengambilan keputusan, pengendalian impuls, dan pengaturan emosi. Pada remaja bagian otak ini lah yang akan menentukan tindak tanduk seseorang.

Dalam pengaruh digital, banyak sekali paparan arus informasi yang begitu masif yang disebabkan oleh media sosial. Ketika remaja menerima begitu banyak informasi, mereka tidak dapat membedakan antara informasi yang valid atau hoaks.

Mitsal Bayu Mumtazi, S. Psi selaku Guru BK Mts Muhammadiyah 1 Malang mengatakan, anak SMP sekarang secara informasi yang diterima itu sangat begitu luas namun sumber serta ke-validan informasi yang diterima sangat dangkal.

Selain banyaknya informasi yang diterima akhirnya juga berpengaruh dan berdampak pada emosi para remaja. Hal ini disebabkan mereka lebih sering berinteraksi dengan dunia maya sehingga menentukan standard sosial yang begitu tinggi.

Salah satu yang menyebabkan kecemasan berlebih ketika mereka tidak bisa memenuhi standrad sosial yang diberikan oleh media sosial, contoh pamer barang mewah di Instagram, dll. Ujar mitsal

Sobat Zhelty pada zaman sekarang terdapat 2 jenis interaksi manusia, interaksi digital, dan interaksi sosial. kedua hal ini juga menentukan karakter remaja, aspek tersebut mempengaruhi konformitas seseorang.

Konformitas ini terjadi apabila seseorang bertumbuh pada lingkungan yang mempunyai kebiasaan atau nilai yang akhirnya anak tersebut akan mengikuti dari apa yang sudah dia lihat dan dipelajari.

Menurut mitsal dampak konformitas terhadap emosi seseorang. Jika anak tersebut memiliki kesadaran tinggi dan kuat, dia tidak akan mudah ikut arus atau trend yang viral khususnya pada hal yang negatif. Bila anak tersebut tidak memiliki kesadaran tinggi maka dia akan sangat mudah untuk ikut arus.

Mitsal mengatakan media sosial atau digitalisasi sangat berpengaruh terhadap persepsi remaja karena banyaknya informasi yang diberikan oleh media sosial. Akhirnya informasi tersebut menentukan persepsi dan cara pandang mereka.

Salah satu dampak dari digitalisasi adalah fenomena cyberbullying.

Fenomena tersebut adalah tindakan perundungan, pelecehan, atau intimidasi yang dilakukan secara sadar dan berulang melalui teknologi digital seperti media sosial, platform chatting, game, atau ponsel dengan tujuan untuk menakuti, mempermalukan, atau membuat marah korban.

Banyak sekali para remaja melakukan tindakan cyberbullying namun mereka tidak sadar telah melakukan tindakan tersebut. contoh membuat sticker dari wajah orang lain, ujar Mitsal. hal ini memberikan dampak kecemasan berlebihan pada orang tersebut dengan berbuat mengurung diri, menyakiti diri sendiri sampai berkeinginan bunuh diri.

Seorang remaja pada dunia digitalisasi ini sangat perlu membekali 2 hal yakni,

  1. Remaja perlu mengasah pola pikir dan daya pikir supaya dapat menentukan mana informasi valid atau hoaks
  2. Remaja perlu mengasah atau belajar mengenai literasi digital seperti cara mengoperasikan platform digital serta menjaga privasi digital.

Peran Keluarga dan Guru

Di fase remaja, fase dimana anak mulai berkembang pada aspek upaya penerimaan diri. Di fase remaja juga mulai belajar konsep sosial yang ada. Hal tersebut perlu dukungan keluarga. Menurut Mitsal keluarga adalah pondasi utama dalam membentuk karakter seseorang.

Peran keluarga adalah kunci penting dalam perkembangan emosi anak, dimana lingkungan yang penuh kasih sayang dan stabil meningkatkan kepercayaan diri, kecerdasan emosional, dan kemampuan mengelola stres.

Sebaliknya ketika si-anak tidak mendapat kasih sayang keluarga, akan memicu kecemasan, trauma, dan kesulitan sosial jangka panjang.

Orang tua yang baik dalam mengelola emosi juga sangat penting, anak cenderung meniru dan belajar dari cara orang tuanya menangani stres, mengatasi konflik, dan mengungkapkan emosi mereka.

Lingkungan keluarga yang stabil dan mendukung memberikan kesempatan bagi anak untuk belajar mengatur emosinya sendiri, membangun ketahanan, dan memahami rentang perasaan manusia.

Menurut Mitsal, orang tua harus memberikan ruang bercerita untuk anaknya dan ketika anaknya sudah bercerita jangan langsung dihakimi atau dianggap lemah. Orang tua juga harus memperhatikan dan mengikuti perkembangan anaknya seperti minat, dan hobby apa yang dimiliki. Supaya sang anak merasa diterima oleh keluarganya. Orang tua juga perlu memfasilitasi keinginan dan kebutuhan anaknya.

Maka dari itu sobat Zhelty, kita tidak boleh abai dalam proses perkembangan anak. karena dari remaja yang dapat menentukan arah gerak baik itu pola pikir dan tindakan seseorang kedepannya.

 

zheltymedia
zheltymedia
Articles: 136

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *