Ketika Tubuhnya Berubah dan Tak Ada yang Menjelaskan: Krisis Edukasi Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia

Rina baru berusia 13 tahun ketika darahnya pertama kali datang. Ia panik, mengunci diri di kamar mandi sekolah selama dua jam, menangis pelan agar tidak terdengar. Tidak ada yang pernah memberitahunya ini akan terjadi — bukan ibunya, bukan gurunya, bukan siapapun.

“Saya pikir saya sakit parah,” cerita Rina, kini 19 tahun, mahasiswi di Surabaya. Suaranya masih menyimpan getaran ketika mengenang hari itu. “Saya tidak tahu harus bilang apa. Akhirnya saya bungkus celana dalam dengan tisu dan diam-diam pulang.”

Kisah Rina bukan pengecualian. Ia adalah cermin dari jutaan anak perempuan Indonesia yang memasuki masa pubertas dalam kegelapan informasi.

Angka Mewakilkan Realita

Menurut BKKBN & UNFPA, Survei Kesehatan Reproduksi Remaja Indonesia (SKRRI) 2021, 1 dari 3 remaja mendapat informasi kesehatan reproduksi dari internet atau teman sebaya bukan dari orang tua ataupun sekolah. Dengan 63% remaja perempuan Indonesia tidak mendapat informasi menstruasi sebelum haid pertama.

Dokter spesialis kandungan di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang, menyaksikan dampak langsung dari kekosongan ini setiap hari. “Pasien remaja yang datang ke saya rata-rata sudah terlambat. Mereka menahan rasa sakit siklus haid berbulan-bulan karena malu bertanya. Padahal endometriosis yang tidak ditangani sejak dini bisa menyebabkan infertilitas.” Ucap salah seorang dokter sepesialis kandungan di RSUD Dr. Saiful Anwar Maalang.

Kurikulum yang Tertinggal Zaman

Kurikulum Merdeka telah memperkenalkan beberapa penyesuaian, namun pendidikan kesehatan reproduksi komprehensif masih jauh dari memadai. Di banyak sekolah, topik ini hanya diselipkan sekilas dalam mata pelajaran Biologi seringkali dilewati karena dianggap “sensitif”.

Ahmad Fauzi, guru SMP Negeri di Pasuruan, mengaku pernah melewati bab reproduksi karena tekanan tidak langsung dari komite sekolah. “Ada orang tua yang protes tahun lalu. Jadi kami lebih hati-hati,” katanya dengan nada lelah.

Padahal, data menunjukkan bahwa pendidikan seksualitas komprehensif justru menunda aktivitas seksual pertama remaja, bukan sebaliknya sebuah temuan yang konsisten dari riset WHO Global Report on Adolescent Sexual and Reproductive Health selama dua dekade terakhir. Sebesar 76% remaja yang menerima pendidikan seks komprehensif menunda hubungan seksual pertama, yang menunjukkan penurunan angka kehamilan remaja di negara dengan kurikulum kesehatan reproduksi terstruktur sebesar 54%.

zheltymedia
zheltymedia
Articles: 170

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *