Sebuah angka bisa terasa abstrak sampai Anda melihat wajah di baliknya. Wajah Dewi, misalnya, 23 tahun, duduk di bangku besi rumah sakit kabupaten di Probolinggo, perutnya membesar, matanya menatap kosong ke lantai.
Dewi menikah tiga bulan lalu. Bukan karena cinta, tapi karena “sudah terlanjur”. Ia keluar dari sekolah. Impiannya menjadi guru SD kini terasa seperti gambar yang terhapus perlahan. “Saya tidak tahu apa yang harus dilakukan,” bisiknya. “Saya masih belum paham mau jadi ibu itu seperti apa.”
Menurut Dinas Kesehatan Provinsi Jawa Timur, 2024 dan UNICEF Indonesia, 2023. Sebesar 21.247 bayi lahir dari ibu berusia di bawah 19 tahun di Jawa Timur pada tahun 2024, yang emunjukkan 3 kali lebih tinggi risiko kematian ibu pada kelahiran remaja di bawah 18 tahun dibanding usia ideal, dengan anak perempuan yang hamil di usia remaja tidak kembali ke sekolah sebesar 67%.
Lingkaran yang Sulit Dipecahkan
Dr. Prasetyo Wibowo, peneliti demografi dari Universitas Airlangga, menggambarkan ini sebagai “lingkaran kemiskinan reproduktif” kemiskinan mendorong pernikahan dini, pernikahan dini memicu kehamilan prematur, kehamilan prematur memutus akses pendidikan, dan putus sekolah memperparah kemiskinan.
Lingkaran yang Sulit Dipecahkan
Dr. Prasetyo Wibowo, peneliti demografi dari Universitas Airlangga, menggambarkan ini sebagai “lingkaran kemiskinan reproduktif” kemiskinan mendorong pernikahan dini, pernikahan dini memicu kehamilan prematur, kehamilan prematur memutus akses pendidikan, dan putus sekolah memperparah kemiskinan.
“Kita tidak bisa hanya menyalahkan satu pihak. Ini adalah kegagalan sistemik keluarga, sekolah, layanan kesehatan, dan pemerintah semuanya punya andil dalam situasi ini,” ucapnya.
Risiko Medis yang Nyata
Tubuh seorang gadis remaja secara biologis belum siap mengandung. Panggul yang belum berkembang sempurna meningkatkan risiko komplikasi persalinan. Anemia akibat gizi buruk umum pada remaja perempuan miskin memperparah risiko perdarahan. Preeklampsia tiga kali lebih sering ditemukan pada ibu remaja.


