Lila pertama kali memeriksakan diri ke dokter karena haidnya tidak teratur terkadang datang dua kali sebulan, kadang hilang tiga bulan. Jawabannya singkat “Kurang olahraga. Turunkan berat badan.” Ia pulang dengan tangan kosong.
Ini terjadi di tiga klinik berbeda, selama empat tahun. Baru dokter keempat yang akhirnya melakukan USG, mengecek kadar hormon, dan mendiagnosis Polycystic Ovary Syndrome (PCOS).
“Saya marah,” kata Lila, 27 tahun, dengan suara yang bergetar. “Empat tahun. Empat dokter. Bukan karena penyakitnya sulit didiagnosis tapi karena tidak ada yang mau benar-benar mendengarkan saya.”
Lebih dari Sekadar “Ovarium Kista”
Nama PCOS menyesatkan, kondisi ini bukan sekadar tentang kista di ovarium. PCOS adalah gangguan metabolik-hormonal yang kompleks: kadar androgen (hormon “pria”) berlebih menyebabkan siklus haid tidak teratur, tumbuhnya rambut di tempat yang tidak diinginkan (hirsutisme), jerawat persisten, dan resistensi insulin yang meningkatkan risiko diabetes tipe 2.
Secara psikologis, dampaknya juga berat. Penelitian menunjukkan perempuan dengan PCOS dua kali lebih berisiko mengalami depresi dan kecemasan.
“PCOS bukan hanya masalah kesuburan. Ini kondisi seumur hidup yang memengaruhi jantung, metabolisme, kesehatan mental. Tapi karena gejalanya dianggap ‘keluhan kosmetik’ jerawat, rambut, berat badan sering diremehkan baik oleh dokter maupun pasien,” ucap dokter Klinik Endokrinologi Reproduksi Surabaya.
Sisi yang Tidak Terlihat
Di balik data, ada Lila yang menangis setiap kali melihat rambut berguguran di kamar mandi. Ada Lila yang menolak undangan renang karena malu dengan rambut di lengannya. Ada Lila yang diam-diam mencari informasi soal peluang kehamilan sambil belum berani berbicara kepada siapapun.
Kini, dengan penanganan tepat metformin, pola makan terstruktur, olahraga siklus haidnya mulai teratur. “Tubuh saya masih aneh,” katanya tertawa kecil. “Tapi setidaknya sekarang saya mengerti bahasanya.”


