Budi tahu ada yang tidak beres sejak dua tahun lalu. Namun baru enam bulan kemudian ia menginjakkan kaki di klinik urologi dan itu pun setelah istrinya yang mendaftarkan, istrinya yang mengantarkan, istrinya yang menemaninya masuk ruang periksa.
“Saya malu,” kata pria 38 tahun ini terus terang. “Sebagai laki-laki, ada perasaan bahwa mengakui masalah di area itu berarti mengakui bahwa saya kurang… kurang jantan.” Budi didiagnosis varikokel stadium dua. Bisa ditangani. Tapi keterlambatannya berbulan-bulan hampir mengorbankan kesuburannya.
Angka yang Bicara
Maskulinitas yang Menjebak
Dokter urolog di RS Universitas Brawijaya Malang, menyaksikan pola ini berulang tanpa henti. Pasiennya datang terlambat, kondisinya sudah parah, dan hampir selalu ada keterlambatan berbulan-bulan antara gejala pertama dan kunjungan pertama ke dokter.
“Ada konstruksi sosial yang menyebut bahwa pria sejati tidak mengeluh, tidak sakit, tidak lemah. Padahal testis yang terlambat ditangani bisa menjadi kanker stadium lanjut. Maskulinitas bukan tentang bertahan dari rasa sakit itu justru kebodohan,” ucapnya.
Yang Tidak Diajarkan di Sekolah
Berbeda dari perempuan yang minimal mendapat pendidikan tentang menstruasi, anak laki-laki hampir tidak pernah mendapat pendidikan tentang pemeriksaan mandiri testis, tanda-tanda infeksi saluran reproduksi, atau pentingnya menjaga kesuburan. Varikokel, yang memengaruhi 15% pria dan merupakan penyebab infertilitas pria terbanyak, nyaris tidak dikenal publik luas.


