Selama sebelas tahun, Maya meyakini bahwa nyeri haid yang membuatnya pingsan adalah hal biasa. “Semua perempuan bilang haid itu sakit. Mama bilang sabar, ini ujian,” cerita perempuan 32 tahun asal Malang itu. Ia meminum parasetamol seolah permen. Ia melewatkan rapat penting, membatalkan kencan, meringkuk di kamar mandi kantor dengan keringat dingin. Sebelas tahun.
Baru pada tahun ke-dua belas, saat ia dan suaminya mulai mencoba program hamil tanpa hasil, seorang dokter akhirnya mengucapkan kata yang selama ini tak pernah ia dengar: endometriosis.
Mitos yang Membunuh Perlahan
Mitos bahwa nyeri haid adalah “normal” adalah salah satu penyebab terbesar keterlambatan diagnosis. Budaya tabu seputar menstruasi membuat perempuan enggan membicarakan rasa sakit mereka, bahkan kepada dokter.
“Perempuan sudah dikondisikan untuk menerima rasa sakit sebagai bagian dari keperempuanan mereka. Padahal nyeri yang mengganggu aktivitas harian tidak pernah normal, itu selalu sinyal bahwa ada sesuatu yang perlu diperiksa.” Ucap Dokter Spesialis Endometriosis, RSUD Dr. Saiful Anwar.
Apa Itu Endometriosis Sebenarnya?
Endometriosis adalah kondisi di mana jaringan yang mirip lapisan dalam rahim tumbuh di luar rahim bisa di ovarium, tuba falopi, bahkan usus. Setiap bulan, jaringan ini merespons siklus hormonal seperti lapisan rahim normal: menebal, luruh, namun tidak memiliki jalan keluar. Hasilnya adalah peradangan, jaringan parut, dan rasa sakit yang intens.
Tidak ada obat yang menyembuhkan endometriosis sepenuhnya. Tapi dengan diagnosis dini dan penanganan tepat, kualitas hidup dapat dijaga secara signifikan.


