Halo sobat Zelly! media sosial baru-baru ini dihangatkan oleh video viral yang menunjukkan kondisi kritis tanggul lumpur Lapindo di Titik 71, kawasan Siring, Porong. Dalam video tersebut, volume air dan lumpur pekat terlihat merangkak naik hingga sejajar, bahkan seolah nyaris meluap melewati pagar pembatas tanggul lama. Warga lingkar tanggul pun sempat diselimuti kepanikan massal mengingat memori kelam bencana 20 tahun silam.
Merespons situasi darurat tersebut, Pusat Pengendalian Lumpur Sidoarjo (PPLS) langsung mengerahkan alat berat secara nonstop untuk melakukan peninggian tanggul darurat setinggi puluhan sentimeter. Berdasarkan laporan terkini dari Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Sidoarjo, situasi di lapangan saat ini dinilai telah masuk fase aman dan terkendali. Menariknya, otoritas setempat menyebut bahwa masuknya musim kemarau di wilayah Sidoarjo menjadi “penyelamat” karena beban air di dalam kolam penampungan (pond) utama tidak bertambah drastis akibat air hujan.
Namun, dari kacamata kesehatan lingkungan, amannya fisik tanggul di musim kemarau bukan berarti ancaman bagi warga sekitar telah selesai. Di balik surutnya risiko tanggul jebol, ada ancaman tak kasat mata yang justru mengintai kesehatan respirasi masyarakat: Polusi udara dan pekatnya gas beracun.
Bom Waktu Penguapan Kimia di Terik Kemarau
Secara ilmiah, karakteristik lumpur Lapindo tidak hanya terdiri dari tanah dan air, melainkan juga senyawa organik volatil (VOCs) dan gas berbahaya seperti Hidrogen Sulfida (). Ketika volume lumpur sempat menumpuk akibat kendala operasional kapal keruk beberapa waktu lalu, material pekat tersebut terjebak di permukaan kolam penampungan dalam jumlah masif.
Di sinilah hukum alam kesehatan lingkungan bekerja. Terik matahari musim kemarau yang ekstrem di Sidoarjo justru mempercepat proses evaporasi (penguapan) cairan lumpur. Akibatnya, konsentrasi gas —yang dikenal lewat bau menyengat mirip telur busuk—akan meningkat berkali-kali lipat dan dengan mudah terbawa angin ke arah pemukiman padat penduduk yang hanya berjarak belasan meter dari kaki tanggul.
Paparan gas ini bukan sekadar urusan bau tidak sedap. Dalam jangka pendek, warga lingkar luar penampungan sangat rentan mengalami gejala klinis seperti pusing, mual, iritasi mata, hingga lonjakan kasus Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), terutama pada kelompok rentan seperti anak-anak dan lansia.
Rembesan dan Ancaman Debu Proyek
Selain masalah udara, ancaman kesehatan lingkungan juga muncul dari sisa trauma rembesan air (seepage) yang sempat muncul sepanjang puluhan meter di dinding tanggul Desa Siring dan Gempolsari pertengahan Juni kemarin. Meski PPLS telah melakukan penutupan darurat menggunakan sandbag (kantong pasir), rembesan tersebut mengindikasikan adanya tekanan hidrolik bawah tanah yang berpotensi membawa material mineral buruk ke dalam lapisan air sumur dangkal milik warga.
Tak hanya itu, aktivitas “kejar tayang” alat berat yang sedang melakukan pengerukan dan peninggian tanggul di tengah cuaca kering kering kerontang otomatis menghasilkan polusi debu halus () dalam skala besar. Debu material tanggul ini tidak hanya mengepung rumah warga, tetapi juga berisiko mengganggu jarak pandang dan kesehatan paru-paru para komuter yang melintasi Jalan Raya Nasional Porong.
