Nama aslinya tidak bisa kami tulis. Ia meminta dipanggil Anita. Perempuan 34 tahun ini telah hidup dengan HIV selama delapan tahun. Ia hidup dengan sehat, bekerja, aktif sosial. Ia mengonsumsi ARV (antiretroviral) setiap hari tanpa gagal. Viral loadnya tidak terdeteksi, artinya secara medis ia tidak dapat menularkan virus meski berhubungan seksual.
Namun ketika atasan kantornya tidak sengaja mengetahui statusnya, Anita dicopot dari jabatan manajernya dalam waktu 24 jam. “Mereka bilang ‘restrukturisasi’. Tapi saya tahu. Semua tahu,” katanya, suaranya datar namun matanya berkaca.
Senjata Terbesar Ketidaktahuan
Menurut dokter spesialis penyakit infeksi di RSUD Dr. Saiful Anwar Malang, menegaskan bahwa sebagian besar stigma terhadap ODHIV (Orang Dengan HIV) berakar pada ketidaktahuan medis.
“Orang masih mengira HIV menular lewat jabat tangan, keringat, atau pakai piring bersama. Ini mitos dari tahun 1980-an yang tidak pernah mati karena tidak ada yang mau mendiskusikan HIV secara terbuka. Sementara ODHIV yang takut stigma tidak berobat, dan justru berisiko menularkan,” terang nya.
Reproduksi dan HIV
Salah satu aspek yang paling sedikit dipahami adalah bahwa ODHIV yang menjalani terapi ARV dengan konsisten dapat menjalani kehamilan yang aman. Dengan protokol PMTCT (Prevention of Mother-to-Child Transmission), risiko bayi terinfeksi dapat ditekan hingga di bawah 2% bahkan mendekati 0% jika pengobatan optimal.
Namun akses ke layanan ini terhalang stigma. Banyak ibu hamil dengan HIV yang memilih tidak memeriksakan diri daripada menanggung cap sosial.


