Halo sobat Zhelty. Mendengar kata “Rumah Sakit Jiwa” atau RSJ, seringkali yang terlintas di pikiran sobat Zhelty akan langsung tertuju pada potongan adegan film horor bak koridor gelap, suara teriakan, baju pengekangan, hingga jeruji besi.
Konstruksi sosial yang terlanjur mengakar di masyarakat kita sering kali melebel kuat RSJ sebagai “ujung jalan” atau tempat pembuangan bagi mereka yang dianggap tidak lagi waras. Namun, jika anda melangkah masuk ke dalam RSJ modern terkhusus RSJ Dr Radjiman Wedjojiningrat yang berada di Lawang, Kab. Malang, Jawa Timur.
Bersiaplah untuk melihat seluruh prasangka itu runtuh berantakan. Pada kenyataannya, tempat ini bukanlah tempat pembuangan. RSJ ini adalah sebuah ruangan pulih yang sangat humanis.
Mengubah Sudut Pandang
Sayangnya, stigma bertahun-tahun mengubah maknanya menjadi sesuatu yang menakutkan. Padahal, fungsi utama RSJ mirip dengan rumah sakit pada umumnya. Jika rumah sakit umum mengobati penyakit fisik, RSJ mengobati ketidakseimbangan jiwa dan pikiran.
Menurut mahasiswi praktikan dari UMM jurusan Psikologi yakni Salsa, mengatakan “Kegiatan di RSJ itu seru lohhh, pagi mereka senam, terus dilanjut sarapan dan bersih dirih. setelah itu pengobatannya mereka melalui games yang tergantung kondisi penyakit mereka”.
Dengan nada bicaranya yang santai namun penuh penekanan, Salsa menjelaskan bahwa fokus utama perawatan di RSJ adalah mengembalikan fungsi sosial pasien.
“Mereka yang datang ke sini sedang terluka jiwanya. Tugas kami di sini adalah membalut luka itu dengan sains, kesabaran, dan yang terpenting: memanusiakan mereka kembali,” tambah Salsa.
Tantangan Terbesar Justru Ada di Luar Gerbang
Sains dan dunia medis telah berkembang pesat. Obat-obatan psikiatri generasi terbaru kini memiliki efek samping yang jauh lebih minim, memungkinkan pasien untuk pulih dan berfungsi normal kembali di tengah masyarakat.
Sayangnya, musuh terbesar para pasien gangguan jiwa bukan lagi penyakit yang ada di dalam kepala mereka, melainkan penerimaan masyarakat saat mereka keluar dari RSJ.
Banyak pasien yang sudah dinyatakan pulih atau terkontrol, enggan untuk pulang atau bahkan ditolak oleh keluarganya sendiri. Mereka kembali dicap negatif, kesulitan mencari pekerjaan, dan dikucilkan. Kondisi inilah yang sering kali memicu kekambuhan (relapse).
Meruntuhkan Konstruk ‘RSJ’ di Benak Kita
Melihat Rumah Sakit Jiwa sebagai ruang pulih yang humanis adalah langkah awal kita untuk ikut menyembuhkan kesehatan mental bangsa. Kesehatan jiwa sama persis dengan kesehatan fisik; ia bisa rapuh kapan saja, dan siapa saja bisa mengalaminya akibat tekanan hidup, trauma, atau faktor genetik.
Saatnya kita meruntuhkan dinding pembatas dan stigma horor yang kita bangun sendiri di dalam kepala. RSJ bukanlah tempat pembuangan, melainkan sebuah kepompong aman yang merawat jiwa-jiwa yang sedang retak agar suatu hari nanti bisa kembali terbang dengan utuh.
Jadi, siapkah kita menyambut mereka kembali dengan tangan terbuka saat gerbang RSJ itu dibuka?



